Halaman

Pesan dari Palestina: Sabda Rasulullah Benar, Bersiaplah Karena Kiamat Sudah Dekat! Sebarkan Info Ini Jika Kamu Termasuk Pengikut Imam Mahdi


Pesan dari Palestina: Sabda Rasulullah Benar, Bersiaplah Karena Kiamat Sudah Dekat! Sebarkan Info Ini Jika Kamu Termasuk Pengikut Imam Mahdi

Diposting pada 
Donald Trump Bertugas Membuka Pintu Gerbang Kiamat Qhubro. Sambutlah Ketetapan Allah SWT tsb dg perkuat iman & tawakal. “Maka sesungguhnya telah datang (hari Kiamat) tanda-tandanya,” (QS.47:18)
Apa yang sedang terjadi di Palestina sekarang seharusnya menjadi cermin untuk meyakini semakin dekatnya peristiwa Hari Pembalasan (Kiamat) yang telah ditetapkan sebagai sunnatullah. Tanda-tanda hari kiamat telah pula disebutkan oleh Rasul akhir zaman.
Ingatlah.. Bahwa di antara tanda-tanda Kiamat itu adalah Penaklukan Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha). Dijelaskan dalam hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau berkata. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ… (فَذَكَرَ مِنْهَـا:) فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ
‘Ingatlah (wahai ‘Auf) ada enam (tanda) sebelum datangnya hari Kiamat….’” (Lalu beliau menyebutkan salah satunya), “Penaklukan Baitul Maqdis.”(HR Bukhari)
Kembalinya kaum Yahudi ke Palestin sebagai tanda bahwa kiamat telah dekat, karena setelah mereka kembali, tidak lama setelah mereka berkuasa di Palestin kaum muslimin akan memerangi mereka dan baitul Maqdis ditaklukkan kembali oleh kaum muslimin, sebagaimana hadist.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia.’ Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR Muslim)
Hadits-hadits di atas dari segi kekuatan sanadnya termasuk hadits shahih tanpa perbedaan pendapat. Dan termasuk dari tanda-tanda kenabian Rasulullah yang terkait dengan mukjizat kabar yang akan terjadi di masa yang akan datang. Namun ada yang hal yang kurang kita sadari selama ini. Yaitu bahwa hadits ini baru terasa relevan di zaman sekarang ini saja.
Kemenangan Atas Yahudi Adalah Tanda Kiamat Sudah Dekat
Nubuwat lain yang disebutkan oleh Rasulullah adalah bahwa Palestina akan menjadi salah satu tempat tegaknya Khilafah di akhir zaman. Hal itu sebagaimana yang disebutkan bahwa Abdullah bin Hawalah Al-Azdi berkata,
“Wahai Ibnu Hawalah, jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di bumi Al-Maqdis (Baitul Maqdis, Palestina), maka itu pertanda telah dekatnya berbagai goncangan, kegundah-gulanaan, dan peristiwa-peristiwa besar. Bagi umat manusia, kiamat lebih dekat kepada mereka daripada dekatnya telapak tanganku kepada kepalamu ini.” (HR: Abu Daud no. 2535)
Rasulullah bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berada di atas kebenaran, mengalahkan musuh-musuhnya, dan orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka kecuali sedikit musibah semata. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.”“Wahai Rasulullah, di manakah kelompok tersebut?”tanya para sahabat. “Mereka berada di Baitul Maqdis dan serambi Baitul Maqdis.”
Pesan Untuk Menyebar Informasi Ini di Kalangan Umat Islam
Pesan Perdana Menteri Palestina: “Kami tidak meminta kamu datang bersama2 kami mengangkat senjata karena kami senantiasa siap disini utk mempertahankan tanah umat Islam, tetapi kami hanya meminta dari kamu doa karena doa lah senjata paling hebat yg tidak ada pada orang kafir. Selain itu bantulah apa saja yang kamu mampu, dan tolong sebarkan tentang kami kepada semua umat Islam.
Dari Abi Hurairah ra. bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian (muslimin) memerangi Yahudi, kemudian batu berkata di belakang Yahudi, “Wahai muslim, inilah Yahudi di belakangku, bunuhlah!” (HR Bukhari dan Muslim dalam Shahih Jami’ Ash-Shaghir no. 7414)
Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga muslimin memerangi Yahudi. Orang-orang Islam membunuh Yahudi sampai Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun batu atau pohon berkata, “Wahai muslim, wahai hamba Allah, inilah Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh saja. Kecuali pohon Gharqad (yang tidak demikian), karena termasuk pohon Yahudi.” (HR Muslim dalam Shahih Jami’ Ash-shaghir no. 7427)

Hadits-hadits di atas dari segi kekuatan sanadnya termasuk hadits shahih tanpa perbedaan pendapat. Dan termasuk dari tanda-tanda kenabian Rasulullah SAW yang terkait dengan mukjizat kabar yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Namun ada yang hal yang kurang kita sadari selama ini. Yaitu bahwa hadits ini baru terasa relevan di zaman sekarang ini saja. Sepanjang 14 abad lamanya, tiap ada orang yang baca hadits ini di zamanya, akan sedikit berkerut kening. Mengapa?
Sebab di masa mereka hidup, sejarah Yahudi tidak seperti sekarang. Mereka belum lagi menjadi sosok negara super power yang ampuh. Keangkuran Yahudi dengan negara Israelnya belum pernah ada sepanjang 14 abad itu. Keberadaannya baru muncul di abad 20 ini atau abad 14 hijriyah.
Orang Yahudi sepanjang sejarah Islam, justru selalu berada di bawah perlindungan negeri-negeri Islam. Komunitas Yahudi selalu dimusuhi oleh semua bangsa dan negara sepanjang sejarah. Kemunitas Yahudi pun pernah dibantai oleh Nazi Jerman di masa Hitler. Nyaris tidak ada tempat buat Yahudi kecuali di dalam negeri Islam. Mereka aman bila tinggal di wilayah khilafah Islam, karena hukum Islam melarang memerangi ahlu zimmah (kafir zimmi).
Salah satu penguasa yang anti Yahudi adalah Spanyol Kristen. Ketika Spanyol dikuasai rejim Katolik, bukan hanya umat Islam yang diusir, tetapi termasuk juga kalangan Yahudi. Tidak ada satu pun tanah di dunia ini yang mau menampung bangsa ini, kecuali penguasa muslim Turki Utsmani.
Maka selama 14 abad itu, hadits ini cukup mengherankan umat Islam. Bagaimana mungkin umat Islam yang selama ini melindungi bangsa Yahudi serta mengharamkan darah mereka, lantaran mereka termasuk ahlu zimmah, tiba-tiba akan memerangi Yahudi sampai mati. Bahkan batu dan pohon akan memerintahkan umat Islam untuk membunuh mereka juga.
Teka-teki hadits ini baru terjawab pada tahun 1948, ketika komunitas Yahudi dunia melakukan agresi, penjajahan dan pencaplokan sebuah negeri Islam merdeka, Palestina. Dan pada tahun 1967 semakin jelas lagi hadits ini, karena ternyata komunitas Yahudi yang selama 14 abad hidup di bawah perlindungan, asuhan dan kerahiman umat Islam, tiba-tiba berubah menjadi srigala liar yang mengakibatkan perang Arab-Israel.
Barulah di masa sekarang ini hadits ini menjadi lebih punya arti, setelah terkuaknya misteri. Ternyata Yahudi yang selama ini hidup di bawah asuhan dan kasih sayang umat Islam, tiba-tiba jadi makhluk buas pembantai nyawa.
Dan menarik untuk diperhatikan, bahwa Yahudi sudah mempersiapkan apa yang mereka dapat di masa sekarang ini sejak lama. Bahkan ada yang mengatakan sejak ribuan tahun yang lalu. Konon terbentuknya negara-negara super power, penjajahan barat atas dunia timur, naiknya para pejabat di masing-masing negara adidaya, semua tidak lepas dari skenario mereka. Inggris di masa lalu dan Amerika di masa sekarang, tidak lain hanyalah alat yang disiapkan untuk mewujudkan cita-cita pembentukan Israel.
Karena itu mustahil meminta Amerika untuk menekan Israel agar menghentikan serangan mereka ke negeri Islam. Adanya hak veto di PBB semakin membuktikan bahwa PBB pun termasuk bagian dari alat yang diciptakan oleh mereka.
Kepastian Kekalahan Yahudi
Selain terkuaknya misteri hadits ini di abad 14 hijriyah, hadits ini sangat tegas menyebutkan kepastian kehancuran bangsa pengingkar Allah dan nabi ini. Bahkan pohon dan batu pun akan ikut membantu umat Islam dalam menumpas mereka.
Karena itu, hadits ini juga menjadi penghibur derita, pelipur lara dan pembangkit harapan buat umat Islam yang sempat merasakan kebengisan Yahudi secara lebih nyata. Bahwasanya Israel yang bukan manusia itu pasti akan dikalahkan, mati kutu dan mati betulan. Ini adalah sebuah kepastian, karena yang bilang bukan sembarang orang. Yang bilang adalah seorang yang paling dekat kepada Allah SWT, yaitu Nabi Muhammad SAW.
Yang menarik juga, di dalam hadits ini Rasulullah SAW menyebutkan sebuah nama pohon, yaitu Gharqad. Pohon ini milik Yahudi, sehingga kalau ada Yahudi sembunyi di baliknya dari kejaran umat Islam, pohon ini tidak akan berbicara. Sebaliknya, pohon ini akan melindungi Yahudi, karena pohon ini milik mereka.
Seperti apa pohon gharqad, berikut ini adalah gambarnya.
Dajjal
Dajjal, menurut hemat kami dan sebagaimana yang kita baca di dalam banyak hadits, bukan kiasan, melainkan sosok manusia. Keberadaannya sesaat sebelum hari kiamat kubra terjadi.
Sepanjang sejarah, sudah cukup banyak umat Islam berhadapan dengan para penguasa dan kekuatan lalim, seperti Amerika di zaman sekarang ini. Dan banyak yang mengaitkan dengan Dajjal sebagaimana di dalam banyak hadits.
Tapi para penguasa lalim itu sudah punah, bahkan zaman sudah berlalu, kiamat kubra belum juga terjadi. Dan sangat boleh jadi sebentar lagi setelah Amerika tumbang, akan ada lagi negara adidaya lainnya.
Semua ini membuktikan bahwa Amerika bukanlah sosok Dajjal yang dimaksud dalam hadits. Meski pun kebejadan dan kesadisan negara ini terhadap umat Islam sudah muttafaqun ‘alaihi. Namun bukan berarti negara itu Dajjal yang dimaksud.
Sebab sesuai dengan isi zhahir hadits, Dajjal adalah sosok manusia, bukan personifikasi dari sebuah negara adidaya.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sumber : www.masterberita.com
Www.kabarmakkah.com

Bacaan niat puasa sunnah dzulhijjad teks arab dan artinya dan keutamaan puasa sunnah bulan dzulhijjah

. Bulan Dzulhijjah disebut juga dengan Bulan Haji dan Qurban karena pada bulan inilah ibadah dan ritual haji dilaksanakan. Pada bulan Dhulhijjah ini disunnahkan melakukan puasa sunnah terutama pada tanggal 8 yang disebut dengan hari Tarwiyah dan tanggal 9 atau hari Tasu'a. Selain kedua hari tersebut, disunnahkan juga berpuasa pada tanggal 1 sampai 7 Dzulhijjah. Baik puasa Syawal maupun puasa Dzulhijjah adalah puasa sunnah yang baik dilakukan tapi boleh juga ditinggalkan. Bagi seorang istri, melakukan puasa sunnah harus atas seijin suami. 


HUKUM DAN DALIL DASAR PUASA BULAN DZULHIJJAH 

- QS Al-Hajj 22:27 - 28
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ * لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ 
Artinya: Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan...

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir III/239 yang dimaksud dengan kata " أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ" adalah 10 hari bulan Dzulhijjah.

- QS Al-Fajr 35:1-2 وَالْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Artinya: Demi fajar, dan malam yang sepuluh, 

Menurut Tabari dalam Tafsir Tabari VII/514 dan Tafsir Ibnu Katsir IV/535 yang dimaksud "وَلَيَالٍ عَشْرٍ" adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah

- Hadits riwayat Abu Daud no. 2438

ما من أيامٍ العمل الصالح فيها أحبُّ إلى الله من هذه الأيامِ ( يعني أيامَ العشر ) . قالوا : يا رسول الله ، ولا الجهادُ في سبيل الله ؟ قال : ولا الجهادُ في سبيل الله إلا رجلٌ خرج بنفسه وماله فلم يرجعْ من ذلك بشيء
Maknanya: Tidak ada amal salih yang paling disukai Allah selain hari-hari ini (yakni 10 hari Zulhijjah). Mereka berkata: Wahai Rasulullah tidakkah (lebih disukai) jihad? Nabi bersabda: Tidak kecuali seorang lelaki yang keluar dengan diri dan hartanya lalu pulang tanpa membawa apapun. 

- Hadits riwayat Abu Daud, Baihaqi, Ahmad, al-Bayhaqi, Ibn ‘Asakir dan al-Tahawi

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ ، وَخَمِيسَيْنِ
Artinya: Bahwa Rasulullah saw biasanya berpuasa 9 hari Zulhijah, hari ‘Ashuraa’, 3 hari setiap bulan iaitu Senin pertama dan 2 Kamis terawal.


WAKTU PUASA BULAN DZULHIJJAH 

Puasa sunnah pada bulan Dzulhijjah yaitu sejak tanggal 1 sampai tanggal 9 Dzulhijjah (Lihat dalil hadits di atas).


NIAT PUASA BULAN DZULHIJJAH 

Niat puasa sunnah Dzulhijjah, sebagaimana puasa sunnah lain, dapat dilakukan pada malam hari atau siang hari sebelum masuk waktu Dzuhur (tergelincirnya matahari).



APA ITU ILMU NAHWU DAN SHOROF

Nahwu dan sharaf adalah dua ilmu yang wajib dikuasai bagi mereka yang ingin memahami bahasa arab, dan bahasa arab adalah syarat mutlak bagi mereka yang ingin memahami agama Islam.  Pada awalnya bahasa arab ‘asli’ tidak mengenal adanya harakat (fathah, kasroh, dhommah)  maupun titik dan ini tentunya sangat menyulitkan, kalangan bangsa arab sendiri pada saat itu jarang yang bisa baca tulis, hanya saja ajaibnya, kebakuan susunan ketatabahasaan dan gramatika mereka tetap terjaga. Geliat kesusastraan yang melahirkan banyak syair-syair justru menjadi alat bukti (baca:dalil) atas kevalidan satu pola kebahasaan yang dibahas para nuhah  (pakar Nahwu) di kemudian hari. Kemudian dalam perkembangannya, bahasa arab diberi titik sehingga bisa dibedakan secara visual antara huruf  ب / ba (satu titik) dan huruf  ت ta (dua titik). Namun buat sebagian kalangan tetap saja itu masih sulit untuk ‘membunyikan’ huruf-huruf itu apakah dibaca ba, bi, atau bu. Disinilah kedua ilmu ini, yakni Nahwu dan Sharaf memiliki peranan.
Apa itu ilmu Nahwu …. ?
Secara literatur, ilmu nahwu didefinisikan sebagai
“ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip untuk mengenali kalimat-kalimat bahasa arab dari sisi i’rab dan bina’-nya”(Jamiud Duruus, Syaikh Musthafa). Namun simplenya adalah, dengan ilmu nahwu kita bisa mengenal bagaimana membunyikanbagian akhir dari satu kata dalam satu struktur kalimat. Contoh :
الحمد لله رب العالمين  
Al Hamdu lillahi rabbil ‘aalamiin
Mengapa huruf dal pada kata al-hamdu dibaca dengan dhommah (du), bukannya kasroh (di), atau fathah (da)..? Karena secara struktur kata al-hamdu berperan sebagai mubtada, yang mengawali satu kalimat, sehingga ia harus dibaca dhommah.
Mengapa huruf ha pada kata Allah dibaca hi, bukannya ha atau hu…? Karena lafazh Allah di atas didahului oleh huruf lam (bagi) yang menyebabkan ia harus dibaca kasrah, sehingga lafazh “li” + lafazh “Allah”  dibaca lillaahi
Maka dengan nahwu, kita bisa memahami bagaimana membunyikan bagian akhir dari satu kata. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita membaca huruf pada awal dan pertengahan satu kata…? contohnya adalah مساجد (ma-saa-ji-du) / masjid-masjid, dengan nahwu kita bisa tahu apakah dia dibaca masjidu atau masajida, namun bagaimana kita bisa mengetahui harakat untuk huruf mim-sin-dan jim…? Di sinilah ilmu sharaf berperan
Apa itu ilmu Sharaf….?
Secara literatur, ilmu sharaf adalah  
“ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip untuk mengenal pola-pola kalimat dan kondisi-kondisinya” (Jamiud Durus).
Intinya adalah tiap kata dalam bahasa arab memiliki pola, contohnya ,  مساجد/ma-sa-ji-da masih satu pola dengan مفاعل ma-faa-i-la, dengan melihat pola ini maka kita bisa mengetahui bahwa cara membaca مفاتح adalah ma-faa-ti-ha, dan cara membaca مكارم adalah ma-kaa-ri-ma, dst …. lihatlah kesamaan pola-polanya ma-saa-jid : ma-faa-il : ma-faa-tih : ma-kaa-rim, dengan memahami satu pola kita bisa tahu bagaimana cara membaca kata-kata lain yang terlihat memiliki kesamaan bentuk dan pola dengan wazn / pola defaultnya. Adapun untuk membaca bagian akhirnya apakah ma-saa-ji-du atau ma-saa-ji-da, kita kembalikan pada prinsip / kaidah-kaidah nahwu.   


Apa untungnya memahami pola…?
Dengan memahami pola kita bisa menentukan asal satu kata, dan ini akan memudahkan kita dalam pencarian arti di kamus. Contohnya kata al-miizan  الميزان  (timbangan/neraca) di mana kata al-miizaan tersusun dari huruf mim-ya-zaa-alif-nuun (al / alif lam tak usah dihitung) lantas di mana kita cari arti kata miizaan di kamus, apakah di huruf م (miim), ي (yaa), ز  (zaai) , ا (alif), atau ن (nuun)…?  Jawabnya adalah huruf و (wawu). Karena kata al-miizaan adalah polamashdar (istilah English : gerund) dari kata asalnya yaitu وزن wa-za-na (menimbang).
Di sisi lain, dengan mengetahui arti satu kata asal dan memahami polanya, akanterlahir kosakata-kosakata lain yang dengan mudahnya kita terjemahkan tanpa harus melihat kamus, bila kita paham makna wa-za-na adalah menimbang, kemudian kita tahu bahwa al-miizaan adalah bentuk mashdar atau gerund(kata kerja yang dibendakan) dari kata wazana, maka kita akan paham bahwa kata al-miizaan adalah timbangan / neraca tanpa harus melihat kamus, meskipun untuk lebih aman tetap saja idealnya kita melihat ke kamus ^_^…
Hal seperti inilah yang kita dapati dari ilmu sharaf.
Abi dan Umi
Di kalangan pesantren ada istilah bahwa Nahwu adalah abb (Bapak) dan sharaf adalah umm (ibu). Maksudnya adalah bahwa peranan seorang abi adalah membenarkan, meluruskan kesalahan, menghukumi,  mendidik, dan mengarahkan. Maka disinilah peranan nahwu untuk mengarahkan bagaimana seharusnya satu kata dibunyikan. sementara peranan umi adalah melahirkan anak, disinilah sharaf dianalogikan dengan umi karena dari ilmu sharaf-lah terlahir beragam kosakatayang sesuai polanya masing-masing.
Mari Membuang Mitos
Realitanya, di kalangan komunitas dan keluarga agamis-awam ada mitos menyedihkan soal ilmu nahwu-shorof, di mana keduanya dianggap sebagai  ‘ilmu orang-orang khusus dan pilihan’, ‘hati-hati belajar sharaf‘, ‘perlu hati yang bersih untuk pelajari itu‘, ‘kalau nggak kuat bisa gila‘,‘nggak boleh sembarangan baca buku nahwu-sharaf,’… Ucapan-ucapan semacam ini sempat saya dengar beberapa tahun lalu. Dan ternyata mitos ini mengglobal, karena di kemudian hari, saya memiliki seorang kenalan yang mengajar di satu lembaga bahasa arab di tanah abang yang juga mengeluhkan mitos yang samayangmenghalangi umat Islam mempelajari agamanya.
Ya Allah Ya Rabb… padahal ini hanyalah pelajaran gramatika. Buat saya istilah katagana, hiragana, tsa-tsi-tsu-tse-to jauh lebih njelimet daripada balajar fa’ala – yaf’alu-fa’lan, tapi sampai hari ini belum ada orang yang berkata ‘hati-hati belajar bahasa jepang kalau nggak kuat bisa gila’
Mari Belajar Bahasa Arab…
Syaikhul Islam menegaskan bahwa menggunakan bahasa asing (non-arab) adalah bentuk tasyabbuh kepada kaum kuffar. Walaupun di kemudian hari para ulama membolehkan mempelajari bahasa asing dalam kadar adanya kemaslahatan bagi pribadi dan kaum muslimin dan masyarakat secara umum. Tapi intinya adalah seperti yang pernah saya dengar dari lisan Al Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, seorang ustadz, penulis kitab Ar Rasail, Syarah Aqidah Ahlussunnah, Doa & Wirid, serta buku-buku lainnya, beliau berkata : “Kalau belajar bahasa Jepang saja Antum bisa, bahasa Inggris saja Antum bisa… mengapa untuk bahasa arab tidak bisa…?”. 
Waalahul musta’aan
Sumber : https://muhammadadibshahab.wordpress.com/2016/11/09/apa-itu-ilmu-nahwu-dan-shorof/comment-page-1/#comment-1

SEJARAH LAKHIRNYA ILMU NAHWU DAN SHOROF


SEJARAH LAHIRNYA ILMU NAHWU




Bangsa arab merupakan bangsa yang memilki nilai sastra yang tinggi. Di zaman Arab kuno setiap tahunnya diadakan pasar seni dimana mereka berkumbul dan membanggakan syair-syair yang ada diantara mereka. Salah satu pasar seni yang terkenal adalah ‘Ukadz yang diadakan pada bulan Syawal.
Awalnya bahasa Arab amat terjaga sampai islam menyebar luas ke negeri-negeri ‘ajam (bukan Arab). Dari sinilah mulai timbul kesalahan dalam melafadzkan bahasa arab. Penyebab utamanya adalah adanya percampuran antara bahasa arab dengan 'ajam. Kekeliruan ini sangat berbahaya karena boleh merusak makna ayat Al Quran. Sehingga Akhirnya kaidah-kaidah bahasa arab disusun dan diberi nama nahwu.
Para ulama hampir bersepakat bahwa penyusun ilmu nahwu pertama adalah Abul Aswad Ad Dualy (67 H) dari Bani Kinaanah atas dasar perintah Amirul Mu’minin Khalifah ‘Ali Rhadiyallahu ‘anhu. 
١التحفة السنية بشرح المقدمة الأجرومية – شيخ محمد محي الدين عبد الحميد – ص : ٦
واضعه – والمشهور أن أول واضع لعلم النحو هو أبو أسود الدوليُّ ، بأمر أمير المؤمنين عليّ بن أبي طالب رضي الله تعالى عنهما !. 
٢- الكواكب الدرية على متمّة الأجروميّة- الشيخ محمد بن أحمد بن عبد الباري الأهدَل ص:٢٥ – دار الكتب العلمية.
وسبب تسمية هذا العلم بالنحو ما روي أن عليًا رضي الله عنه لما أشار على أبي الأسود الدولي أن يضعه قال له بعد أن علمه الاسم والفعل والحرف : الاسم ما أنبأ عن المسمى ، والفعل ما أنبأ عن حركة المسمى ، والحرف ما أنبأ عن معنى في غيره والرفع للفاعل وما اشتبه به والنصب للمفعول وما حمل عليه والجر للمضاف وما يناسبه انح هذا النحو يا أبا الأسود فسمي بذلك تبركاً بلفظ الواضع له

Sejarah munculnya Ilmu Nahwu ini pada ketika zaman Abul Aswad Ad-Dauli datang kerumah puterinya di tanah Basroh, (pada masa sekarang sebuah negeri di negara Iraq). Pada saat itu puterinya mengatakan يَا أَبَتِ مَا اَشَدُّ الْحَرِّ, dengan membaca Rofa’ pada lafadz اَشَدُّ dan membaca jar pada lafazh الْحَرّ , yang menurut bahasa yang benar مَا nya dilakukan sebagai Istifham yang artinya: “Wahai Ayahku ! Kenapa sangat panas?
Dengan spontan Abul Aswad menjawap شَهْرُنَا هَذَا (Wahai Puteriku, bulannya memamg musim panas). 
Mendengar jawapan Ayahnya, puterinya langsung berkata : “Wahai Ayah, saya tidak bertanya kepadamu tentang panasnya bulan ini, tetapi saya memberi khabar kepadamu atas kekagumanku pada panasnya bulan ini (yang semestinya jika dikehendaki Ta’ajub diucapkan مَا اَشَدَّ الْحَرَّ , dengan membaca fathah pada اَشَدَّ dan membaca Nashob الْحَرَّ ). 
Sejak kejadian itu, Abul Aswad lalu datang kepada sahabat,Amirul Mu’minin Khalifah ‘Ali, Seraya berkata “ Wahai Amirul Mukminin, bahasa kita telah tercampur dengan yang lain”, sambil menceritakan kejadian antara dia dan puterinya, maka buatlah saya sebuah ilmu, kemudian Amirul Mu’minin Khalifah ‘Alimembacakan:
اَلْكَلاَمُ كُلُّهُ لاَيَخْرُجُ عَنِ اسْمٍ وَفِعْلٍ وَحَرْفٍ الخ عَلَى هَذَا النَّحْوِ
Kalam itu tidak boleh lepas dari kalimat Isim, Fi’il, dan Huruf, dan teruskanlah untuk sesamanya ini”.
Kemudian Abul Aswad Ad-Dauli mengarang bab Istifham dan Ta’jjub, dan Di kisahkan pula dari Abul Aswad Ad-Duali, ketika ia melewati seseorang yang sedang membaca al-Qur’an, ia mendengar sang qari membaca surat At-Taubah ayat 3 dengan ucapan : 
إِنَّ اللهَ بَرِيْءٌ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ وَرَسُوْلِهِ
Dengan mengkasrahkan huruf lam pada kata rasuulihi yang seharusnya di dhommah. Menjadikan artinya “…Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya..”

Hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rosak dan menyesatkan. Seharusnya kalimat tersebut adalah,
إِنَّ اللهَ بَرِيْءٌ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ وَرَسُوْلُهُ
“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.”
Kerana mendengar perkataan ini, Abul Aswad Ad-Duali menjadi ketakutan, ia takut keindahan Bahasa Arab menjadi rosak dan gagahnya Bahasa Arab ini menjadi hilang, padahal hal tersebut terjadi di awal mula daulah Islam. Lalu beliau mengarang bab Athof dan Na’at, yang pada setiap karangan selalu dihaturnya pada Amirul Mu’minin Khalifah ‘Ali sehingga sampai mencukupi ilmu Nahwu yang mencukupi. Dengan melihat cerita tersebut maka pengarang ilmu Nahwu pada haqiqotnya adalah Khalifah Saidina ‘Ali, yanag melaksanaakannya adalah Abul Aswad Ad-Dauli. Pada pekembnagan selanjutnya, banyak orang yang menimba ilmu dari Abul Aswad, diantaranya Maimun Al-Aqron, kemudian generasinya Abu Amr bin Ala’, kemudian generasinya Imam al Kholil al Farahidi al Bashri (peletak ilmu arudh dan penulis mu’jam pertama), kemudian generasinya Imam Sibaweh dan Imam Al-Kisa’I (pakar ilmu nahwu, dan menjadi rujukan dalam kaidah Bahasa Arab).
Seiring dengan berjalannya waktu, kaidah Bahasa Arab berpecah belah menjadi dua mazhab, yakni mazhab Basrah dan Kuufi (padahal kedua-duanya bukan termasuk daerah Jazirah Arab). Kedua mazhab ini tidak henti-hentinya tersebar sampai akhirnya mereka membaguskan pembukuan ilmu nahwu sampai kepada kita sekarang.

Sumber : http://jejaknahwushorof.blogspot.com/2011/07/sejarah-lahirnya-ilmu-nahwu.html

Copyright @ 2013 zeinblogger.